Wednesday, October 27, 2010

Pengajaran dari si Penjaja Kuih

Ketika mata tidak mahu terlelap... Uncle membuka laptop dan mula menerawang ke laman web dan terjumpalah tulisan ini....

Kammi Sumatera Utara:

Pengajaran dari seorang Penjaja Kuih

Dalam suatu ceramah di kantor beberapa waktu lalu, seorang ustadz menceritakan kisah yang sangat menyentuh. Alkisah seorang pemuda yang sedang lapar pergi menuju restoran jalanan dan ia pun menyantap makanan yang telah dipesan. Saat pemuda itu makan datanglah seorang anak kecil laki-laki menjajakan kue kepada pemuda tersebut, “Pak mau beli kue, Pak?”

Dengan ramah pemuda yang sedang makan menjawab “Tidak, saya sedang makan”.

Anak kecil tersebut tidaklah berputus asa dengan tawaran pertama. Ia tawarkan lagi kue setelah pemuda itu selesai makan, pemuda tersebut menjawab “tidak dek saya sudah kenyang”.

Setelah pemuda itu membayar ke kasir dan beranjak pergi dari warung kaki lima, anak kecil penjaja kue tidak menyerah dengan usahanya yang sudah hampir seharian menjajakan kue buatan bunda.

Mungkin anak kecil ini berpikir “Saya coba lagi tawarkan kue ini kepada bapak itu, siapa tahu kue ini dijadikan oleh-oleh buat orang dirumah”.
Ini adalah sebuah usaha yang gigih membantu ibunda untuk menyambung kehidupan yang serba pas-pasan ini.

Saat pemuda tadi beranjak pergi dari warung tersebut anak kecil penjaja kue menawarkan ketiga kali kue dagangan.“Pak mau beli kue saya?”, pemuda yang ditawarkan jadi risih juga untuk menolak yang ketiga kalinya, kemudian ia keluarkan uang Rp. 1.500,00 dari dompet dan ia berikan sebagai sedekah saja.

“Dik ini uang saya kasih, kuenya nggak usah saya ambil, anggap saja ini sedekahan dari saya buat adik”. Lalu uang yang diberikan pemuda itu ia ambil dan diberikan kepada pengemis yang sedang meminta-minta. Pemuda tadi jadi bingung, lho ini anak dikasih uang kok malah dikasih kepada orang lain.

“Kenapa kamu berikan uang tersebut, kenapa tidak kamu ambil?” Anak kecil penjaja kue tersenyum lugu menjawab, “Saya sudah berjanji sama ibu dirumah ingin menjualkan kue buatan ibu, bukan jadi pengemis, dan saya akan bangga pulang kerumah bertemu ibu kalau kue buatan ibu terjual habis. Dan uang yang saya berikan kepada ibu hasil usaha kerja keras saya. Ibu saya tidak suka saya jadi pengemis”.

Pemuda tadi jadi terkagum dengan kata-kata yang diucapkan anak kecil penjaja kue yang masih sangat kecil buat ukuran seorang anak yang sudah punya etos kerja bahwa “kerja itu adalah sebuah kehormatan”, kalau dia tidak sukses bekerja menjajakan kue, ia berpikir kehormatan kerja dihadapan ibunya mempunyai nilai yang kurang, dan suatu pantangan bagi ibunya, anaknya menjadi pengemis, ia ingin setiap ia pulang ke rumah ibu tersenyum menyambut kedatangannya dan senyuman bunda yang tulus ia balas dengan kerja yang terbaik dan menghasilkan uang.

Kemudian pemuda tadi memborong semua kue yang dijajakan lelaki kecil, bukan karena ia kasihan, bukan karena ia lapar tapi karena prinsip yang dimiliki oleh anak kecil itu “kerja adalah sebuah kehormatan” ia akan mendapatkan uang kalau ia sudah bekerja dengan baik.

Sahabat, semoga cerita di atas bisa menyadarkan kita tentang arti pentingnya kerja. Bukan sekadar untuk uang semata…. Jangan sampai mata kita menjadi “hijau” karena uang sampai akhirnya melupakan apa arti pentingnya kebanggaan profesi yg kita miliki. Sekecil apapun profesi itu, kalo kita kerjakan dengan sungguh-sungguh, pastilah akan berarti besar…..

Pelajaran lain dari kisah ini adalah, jangan kita menganggap bahwa uang dapat membeli segalanya, hal ini biasa menimpa orang yang punya rezeki berlebih, yang menganggap orang miskin pasti akan senang dengan diberi uang.

Kisah anak kecil penjaja kue tadi justru tidak, orang miskin ternyata lebih menghargai pekerjaan dan rezeki halal dari sekedar uang belas kasihan. Kita hasrus berterima kasih telah diberi pelajaran penting dari anak kecil penjaja kue.

Wallahualam bissawab

Semoga bermanfaat


Wassalamualaikum wr.wb


Moga diizinkan terbitan semula oleh pemilik artikel ini:


Imam Puji Hartono (IPH)

2 comments:

  1. Inilah kehidupan...penuh liku...penuh episod luka.
    Yang kuat akan tetap berdiri walau beribu kali tersungkur..walau pedih,luka dan berdarah,namun ia bagai api..kian membara semangat juang..bagai pahlawan gagah,tak gentar walau musuh berjuta didepan,pantang menyerah walau nyawa jadi taruhan.

    Tetapi bagi yang lemah..usahkn tersungkur..berdiri dgn sebelah kaki pun takmampu,tak berdaya,tewas pada cabaran dunia..menjalani kehidupan yg amat getir..mngkin telah cuba,berusaha mana yang terdaya,mencari kekuatan yg kian malap..tetapi apa yg dicari kian jauh...pergi bersama impian yg tak kesampaian.

    Tiada insan yg mahu derita,hidup semata2 dengan belas ihsan insan lain,betapa sengsara hidup bagai pengemis,selagi terdaya cubalah utk berdiri dgn sendiri..

    Walau tak segagah pahlawan,tak sehebat SUPERMAN tapi berbahagialah dengan apa yang kita mampu.Tiada yang sempurna dialam ini melainkan yg Maha Esa..namun menjadi manusia yang mampu membina hidup dengan usaha,semangat,pegangan dan prinsip memberi kita peluang untuk menerima anugerah terulung iaitu 'KESEMPURNAAN SEBAGAI MANUSIA'.

    Walau gagal meraih trofi dipentas kehidupan,kempunan untuk digelar insan terhebat,tidak disanjung bagai artis popular,tiada undangan khas mengatur langkah bergaya dikarpet merah...jangan sekali2 merasa 'akulah insan yang paling malang' KERANA...

    Nama anda telah tersenarai sebagai penerima 'ANUGERAH INSAN KAMIL' dipentas akhirat..berbahagialah insn2 yg terpilih..semoga kita turut tercalon...Amin..Ya..Rabbal..Aalamin.

    ReplyDelete
  2. Terimakasih atas komen yang saudari Fad-eila utarakan. Belum berkesempatan untuk mengulas tulisan saudari.
    Insyaallah... akan saya fahami dan ulas komen ini sedikit hari lagi.

    Assalamualaikum.

    ReplyDelete